Music at It's Best : The Lost Romance

Di sabtu sore yang sendu karena hujan yang tidak kunjung berhenti di ibukota, Aku cuma bisa duduk duduk di depan televisi karena ga bisa kemana-mana (padahal waktu itu rencananya mau main ketempat temen yang sama-sama ngerantau di ibukota hiks). Salah satu hal yang menarik perhatianku  di televisi saat itu adalah NET TV. Maklumlah selama ini belum pernah lihat NET TV langsung di televisi karena jangkauan siarannya yang ga sampai Jogja. Biasanya selama ini cuma nonton di youtube, itupun hanya di acara Music everywhere karena guest star dan konsepnya yang lumayan bagus untuk ukuran TV Lokal. Sewaktu seharian menikmati NET TV ini, perhatianku tercuri sama acara yang bakal tayang malam itu pukul 20.00 yaitu, The Beatles Grammys Tribute. Wah ini acara ga boleh terlewatkan. Banyak artist yang bakal menyanyikan lagu-lagu The Beatles menurut Interpretasi mereka. Sebenernya yang cukup mencuri fokus saat itu adalah ketika ada cuplikan Katy Perry menyanyikan lagu “Yesterday”. Dia menyanyi dengan suara yang biasa-biasa aja, tapi penghayatannya luar biasa sampai bikin merinding padahal baru lihat iklannya.

Jam 8 Malem akhirnya standby didepan TV bareng sama Saudara yang sedang mengerjakan pekerjaannya (He’s a fan of the beatles too). Mulailah banyak artist itu menyanyikan lagu-lagu andalan The Beatles dari Yesterday, Let it Be, In My Life, dan lain sebagainya. Artistnya juga banyak dari Katy Perry, John Mayer sama Keith Urban, Ed Sheeran, Dave Grohl dan bahkan Paul McCartney sama Ringo Star juga ikut naik panggung. Sejarah the Beatles pun juga dibahas mulai dari asal keluarga dan kelahiran personel the Beatles hingga kedatangan Beatles pertamakali ke Amerika yang katanya mengubah Amerika.  Cukup merinding lihat documentary nya karena waktu The Beatles konser pertamakali di Amerika, semua penonton histeris bahkan sampai hampir mengalahkan Musicnya The Beatles. Orang-orang yang datang di konser itu dan masih hidup pun memberi kesaksian dan mereka mengatakan bahwa hari itu adalah The Best day Ever.

Tapi ada satu hal lagi yang bikin aku merinding sekaligus galau pada saat bersamaan selain ngelihat Katy Perry nyanyi lagu Yesterday dengan bagusnya. Dave Grohl, My Twin, memberikan Speech didepan panggung. Dia mengatakan bahwa lagu terbaik The Beatles adalah Hey Bulldog. Lagu itu memperkenalkan Dave Grohl untuk pertamakalinya pada Rock n Roll dan mengubah hidupnya. Dia bahkan mengatakan pula bahwa jika lagu itu tidak ada, mungkin dia saat ini ga akan bermain musik. Anaknya pun dia jejali dengan lagu-lagu The Beatles dan sekarang jadi big fan nya The Beatles. Saat itulah aku bener-bener tertohok dan tanpa alasan terharu banget. Cuma gara-gara dia bilang gitu doang aku bisa kepikiran sampai berjam-jam dan wondering gimana kalo aku hidup pada jaman itu.

Mengapa aku wondering hidup pada jaman itu? Karena aku ngecompare langsung kehidupan jaman dalu dengan kehidupan jaman sekarang. Emang faktanya teknologi dan internet telah mengubah kehidupan termasuk dalam dunia musik. Orang jaman sekarang dengan mudahnya mendapatkan referensi musik yang mereka butuhkan dan pilihan genre musik pun jadi semakin beragam sehingga kita bisa memilih apa yang kita suka dan tidak. Bandingkan dengan jaman dulu. Orang harus pergi ke records store untuk membeli piringan hitam dengan pilihan yang terbatas. Tapi itu hanya berlaku untuk orang yang berduit.  Kalo orang yang ga berduit biasanya cuma dateng ke record store untuk melihat-lihat atau mendengarkan musik yang saat itu disetel atau mungkin berkumpul bersama untuk mendengarkan radio karena mungkin saat itu belum semua orang memiliki radio. Bahkan mungkin aja ada anak-anak jaman dulu yang diusir dari record store karena Cuma dateng tapi ga beli? Mungkin aja kan. Orang jaman dulu sangat susah untuk mendapatkan akses dalam menikmati musik dan hal itu berbeda banget sama orang jaman sekarang. Enak yang mana? Mungkin emang lebih enak jaman sekarang secara akses dan opsi. Tapi lebih enak jaman dulu ketika kita berbicara tentang romansa dalam menikmati musik. Kayanya orang jaman sekarang plain-plain aja ketika men-download musik yang mereka suka. Ga ada nikmatnya sama sekali. Orang jaman dulu harus berjuang untuk bisa menikmati musik, misal menabung biar bisa dapet musik yang mereka pengen. Dan karena usaha untuk menikmati musik itu sangat keras, orang jadi lebih menghargai musik sebagai bagian dari dirinya rather than sebagai media untuk mendapatkan hiburan. Romansa kaya gitu sekarang udah mulai hilang dan seriusan hal itu bikin sedih.

Satu hal lagi yang bikin sedih adalah, ketika kita ingin merasakan romansa yang sama dengan orang jaman dulu dengan membeli records misalnya, kita justru mendapatkan banyak kesulitan karena industri records sudah mulai tergeser dengan industri digital. Bahkan, Aquarius, salah satu toko musik terbesar di Indonesia terpaksa tutup dan membuat banyak orang yang mempunyai kenangan indah dengan Aquarius sangat bersedih. Katanya, jaman dulu ketika Aquarius masih berjaya, mempunyai album yang bisa dijual di tempat itu merupakan hal yang tidak ternilai harganya karena bisa bersanding dengan band-band mancanegara lainnya. Sekarang di iTunes misalnya, bersanding dengan band-band mancanegara lain sepertinya tidak se heboh saat itu.

Aku adalah salah satu orang yang pengen merasakan romansa seperti itu dan yang aku lakukan adalah membeli CD dari uang yang aku kumpulkan. Dari situ aku mulai merasa bahwa menikmati musik melalui rilisan fisik lebih terasa menyenangkan karena kita tidak hanya bisa mendengar musik tetapi juga bisa melihat dan menyentuh musik.  Dan aku selalu excited ketika masuk ke toko yang menjual rilisan fisik. Mungkin dengan cara membeli rilisan fisik kita bisa merasakan romansa yang mirip dengan orang jaman dulu, walaupun ga sepenuhnya rasanya sama.

1 comments:

Ayrine Claudya | March 6, 2014 at 9:16 PM

that's true, digitalized era. flexible and fast. but cold.
kayak nyiptain satu album musik murni cuma pake software tanpa actual instrumentnya. canggih sih, cuman ga romantik aja ya.